haloberita.id, Balikpapan – Geliat pembangunan berbasis masyarakat kembali menunjukkan wujud nyatanya di Balikpapan Utara. Berangkat dari semangat mensejahterakan pelaku UMKM serta memperkuat edukasi lingkungan, Anggota DPRD Kota Balikpapan, Sarifuddin Oddang, menggagas pembangunan kawasan wisata kuliner sekaligus destinasi wisata edukasi mangrove di RT 13 Kelurahan Graha Indah.
Bekerja sama dengan tokoh masyarakat dan warga setempat, program ini tak hanya menata lingkungan menjadi lebih indah, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekonomi mikro yang berpihak pada masyarakat kecil.
“Kita ingin hadirkan kawasan yang tidak hanya mempercantik lingkungan, tapi juga memberdayakan pelaku UMKM dan menjadi ruang edukasi penting bagi masyarakat tentang pentingnya hutan mangrove,” ujar Oddang dalam pernyataan resminya.
Oddang menjelaskan Kawasan ini nantinya akan dilengkapi fasilitas jogging track untuk masyarakat yang peduli kesehatan, menjadikannya ruang terbuka hijau multifungsi: tempat olahraga, edukasi, wisata, hingga pusat kuliner lokal.Proses pembangunan pun telah dimulai dengan gotong royong warga serta didukung sejumlah donatur.
Namun, semangat ini tidak lepas dari tantangan. Oddang mengungkapkan adanya oknum yang justru menghambat atau memprovokasi masyarakat dengan narasi negatif yang tidak berdasar.
“Semua sudah kami sampaikan ke kelurahan dan pihak terkait. Tapi ada saja yang mencoba memprovokasi dan membuat onar. Padahal yang tahu kondisi lapangan adalah kelurahan, bukan orang luar yang tak tahu apa-apa,” tegas Oddang
Menurut Oddang, pendampingan terhadap masyarakat yang mau berusaha adalah keharusan, apalagi bagi mereka yang selama ini hidup dengan keterbatasan ekonomi.
“Jika kita dampingi dan tata dengan baik, maka mereka tidak akan lagi membebani pemerintah. UMKM tumbuh, lingkungan tertata, masyarakat sejahtera. Yang penting ada niat dan sinergi,” imbuhnya.
Oddang menyoroti pola pikir segelintir oknum yang justru menjadi penghambat pembangunan. Bukannya mendukung, mereka malah menyebar fitnah dan menciptakan opini menyesatkan di tengah masyarakat.
“Saya heran, ketika masyarakat mau bangkit, selalu saja ada yang merasa terganggu. Jangan jadikan niat baik kami sebagai alat politik murahan,” ungkapnya.
Menjawab isu miring yang menuding pihaknya akan memungut biaya dari para pedagang, Oddang membantah tegas.
“Kami tidak pernah meminta-minta atau memeras. Semua sudah kami jelaskan ke pihak kelurahan. Justru kami ingin memberikan wadah yang aman, tertib, dan nyaman bagi mereka berjualan,” katanya.
Ia bahkan menyebutkan bahwa sejumlah kegiatan, termasuk pengecatan jogging track, dilakukan dengan biaya pribadi dan tidak seluruhnya bergantung pada APBD.
Oddang juga mengingatkan perlunya pendampingan dalam setiap penataan. Ia mencontohkan kondisi di pintu gerbang Perumahan Graha Indah, yang dulunya rapi namun kini berubah menjadi kumuh karena kurangnya pengawasan.
“Drainase mampet, jalan menyempit, lingkungan terganggu itu semua karena tidak ada yang mendampingi. Maka kami tidak ingin kesalahan yang sama terulang,” jelasnya.
Proyek wisata kuliner mangrove ini juga telah dilaporkan ke sejumlah dinas seperti Dinas Pariwisata, Dinas Perumahan dan Permukiman, serta dinas-dinas teknis lainnya. Harapannya, keberadaan kawasan ini dapat menjadi ruang publik yang menginspirasi, sehat, edukatif, dan produktif secara ekonomi.
Pembangunan destinasi wisata kuliner dan edukasi mangrove di Graha Indah adalah bukti bahwa masyarakat, ketika diberi ruang dan pendampingan, mampu menjadi agen perubahan yang sesungguhnya. Dari warga, oleh warga, dan untuk warga.
“Saya ingin tempat ini jadi ruang berkumpul, bercengkerama, sambil menikmati suasana hutan mangrove dan menyantap kuliner lokal. Tempat ini harus jadi simbol kebersamaan dan kemandirian masyarakat Balikpapan,” tutup Oddang penuh harap.
Reporter : Ags





