Pamungkasnews. Id, Balikpapan — Harapan untuk segera menempati Gedung DPRD Kota Balikpapan yang baru tampaknya kembali jadi angan-angan. Setelah dilakukan peninjauan ke dua di lokasi pembangunan gedung, Selasa (8/4/2025).
Suara pesimis tersebut datang langsung dari Wakil Ketua Komisi III DPRD Balikpapan, Halili Adinegara. Ia menyebutkan proyek yang menelan anggaran puluhan miliar ini masih jauh dari kata rampung – baik secara fisik, maupun dari segi kelayakan.
“Kalau melihat kondisi sekarang, apalagi ini sudah bulan April dan belum ada aktivitas berarti di lokasi, saya pesimis gedung ini bisa digunakan tahun ini,” ungkap Halili kepada awak media usai meninjau pembangunan gedung DPRD Kota Balikpapan.
Politisi PKB ini menyoroti banyak aspek yang mengundang tanda tanya besar. Pekerjaan interior yang seharusnya sudah berjalan malah stagnan. Lebih ironis lagi, suasana pasca-Lebaran dijadikan alasan, karena para pekerja belum kembali ke lokasi proyek. Padahal, tenggat waktu tinggal tujuh bulan.
“Kalau tetap begini, saya rasa akan sulit mengejar target selesai di akhir tahun,” ujarnya.
Halili bahkan tak segan melontarkan kritik pedas soal kualitas rancangan ruang anggota dewan. Empat ruangan disebut dibangun tanpa ventilasi udara dan jendela.
“Ruangannya tertutup semua, gak ada ventilasi atau jendela. Kalau tetap dipaksakan seperti ini, ya mending gak usah dilanjutkan. Jujur, lebih bagus kandang ayam daripada ruang anggota dewan seperti itu,” tegasnya.
Pernyataan ini bukan sekadar hiperbola. Dalam dunia konstruksi, ventilasi bukan sekadar detail teknis, melainkan soal kesehatan, keselamatan, dan standar kenyamanan ruang publik. Apa jadinya jika ruang kerja wakil rakyat justru membahayakan penghuninya?
Tak hanya itu, material yang digunakan pun tak luput dari sorotan. Halili menyebut penggunaan GRC Board sebagai dinding tak layak. Ia menilai material tersebut ringkih dan tidak memenuhi standar kekokohan gedung publik.
” Cobalah menggunakan material yang lebih tahan lama, seperti batako atau bata merah” tuturnya.
Halili juga menyorotan pemasangan kaca di sisi bangunan yang berdekatan dengan jalur kendaraan. Halili menilai pemasangan tersebut berisiko tinggi.
“Kalau kaca dipasang di jalur yang sering dilintasi kendaraan, itu rawan pecah karena getaran. Sangat berbahaya,” kata Halili dengan penuh ketidak puasan.
Pihaknya juga menyebut Komisi III berencana menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan dinas terkait dan kontraktor pelaksana.
Namun dalam stuasi seperti ini publik pantas bertanya: sampai kapan proyek ini akan terus jadi beban anggaran dan gagal fungsi?
“Gedung DPRD seharusnya menjadi simbol representasi rakyat – kokoh, fungsional, dan transparan. Namun yang terjadi justru sebaliknya, “proyek beranggaran besar, minim pengawasan, dan terancam jadi monumen kegagalan”” tandasnya.
Reporter : Ags




