haloberita.id, Balikpapan – Seorang warga RT 16, Kelurahan Baru Ulu, Balikpapan Barat, Syamsuddin, dengan tegas menyampaikan keluhannya terkait dampak pembangunan Rumah Sakit (RS) Sayang Ibu yang merusak rumahnya.
Saat rombongan Komisi IV dan Komisi III DPRD Kota Balikpapan melaksanakan kunjungan lapangan (kunlap) untuk memeriksa kerusakan pemukiman warga, Syamsuddin mengungkapkan bahwa rumahnya mengalami keretakan parah pada bagian lantai dan dinding.
“Rumah saya mengalami keretakan di beberapa titik, mulai dari lantai hingga dinding. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika pemancangan tiang dilakukan, rumah kami benar-benar bergoyang,” ungkap Syamsuddin dengan nada kesal.
Syamsuddin yang merasa terancam atas kondisi tersebut, meminta agar metode penumbukan tiang pancang yang selama ini digunakan dalam pembangunan rumah sakit tersebut segera dihentikan.Menurutnya, metode bore pile yang lebih aman dan minim getaran perlu diterapkan.
“Coba jalankan mesinnya, kita rasakan sama-sama getarannya. Kami khawatir jika ini berlanjut, rumah kami bisa lebih rusak atau bahkan ambruk,”ungkapnya.
Tuntutan warga tersebut langsung disampaikan kepada anggota DPRD yang hadir, yang kini tengah melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk meninjau lebih dalam kerusakan yang dialami warga.
Dalam menanggapi keluhan tersebut, Ketua Komisi IV DPRD Balikpapan, Gasali, menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan pertemuan sebelumnya dengan kontraktor dan instansi terkait, termasuk Dinas Kesehatan Kota (DKK) dan Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperkim).
Gasali menegaskan bahwa kontraktor yang bertanggung jawab atas proyek ini telah berjanji untuk mengatasi kerusakan yang dialami warga.
“Kontraktor telah menyatakan siap untuk bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkan akibat pekerjaan mereka. Kami juga akan terus memastikan agar masalah ini ditangani dengan serius,” tegas Gasali.
Lebih lanjut, Gasali juga menyampaikan bahwa masalah ini bukan hal baru. Sebelumnya, pertemuan telah dilakukan antara warga, pihak Kecamatan, dan Kelurahan. Hasil dari pertemuan tersebut adalah relokasi sementara warga yang terdampak proyek pembangunan, dengan biaya sewa rumah yang akan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah kota Balikpapan.
“Warga yang terdampak akan dipindahkan sementara waktu sampai pemasangan tiang pancang di area pinggir jembatan selesai. Pemerintah kota sudah menyetujui biaya sewa rumah mereka akan ditanggung, agar mereka bisa tinggal dengan aman selama pembangunan berlangsung,” kata Gasali.
Namun, meskipun solusi relokasi sudah disepakati, Gasali menegaskan bahwa penyelesaian masalah ini masih akan terus dipantau dan dibahas dengan pihak terkait. Ia menegaskan pentingnya komunikasi yang jelas antara pihak pemerintah, kontraktor, dan warga, agar masalah ini tidak berlarut-larut.
“Yang jelas, persoalan ini akan diserahkan kepada pihak terkait untuk dicari solusi terbaiknya. Kami di DPRD akan terus mengawasi agar hak-hak warga tetap diperhatikan, dan kerusakan yang timbul akibat proyek ini bisa segera diperbaiki,” tambah Gasali.
Gasali menegaskan bahwa kehadiran DPRD Balikpapan dalam menangani permasalahan ini menunjukkan komitmen mereka untuk melindungi warga dari dampak negatif pembangunan infrastruktur yang ada.
Namun, masih banyak pertanyaan yang perlu dijawab terkait bagaimana pembangunan besar seperti RS Sayang Ibu bisa dilakukan dengan memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan sekitar dan kondisi sosial warga yang terdampak.
“Semoga solusi yang tepat bisa segera ditemukan, agar proyek ini tidak meninggalkan luka lebih dalam bagi warga Balikpapan” tandasnya.
Reporter : Ags


